Saturday, October 14, 2017

ANTRE AGAR TAK KORUPSI

 
Oleh ; Zefrin, M.Pd


Pagi yang cerah melihat wajah-wajah yang ceria, penuh semangat berbaris dengan teratur. Diawali dengan menyiapkan barisan, menghormat bendera, memberi salam dan berdoa itulah aktivitas yang dilakukan oleh siswa SD Negeri 89 Sipatana sebelum memulai belajar. Mereka disambut oleh bapak dan ibu guru dengan penuh senyuman hangat masuk ke kelas masing-masing dengan berjabat tangan.
Namun, ada hal yang cukup berbeda terlihat di kelas VI. Begitu selesai kegiatan apel pagi mereka masuk kurang tertib sering mendahului teman, dan saling dorong berebut masuk ke kelas. Kejadian seperti ini sering terlihat, usai apel pagi selesai. Kejadian serupa terlihat pula di kantin sekolah, mereka sering berebut untuk belanja tanpa antre terlebih dahulu. Ketika mengambil wudhu persiapan sholat dzuhur, tak ada antrean disana mereka saling berebut bahkan tak sering pula terjadi pertengkaran.
Perkara antre memang begitu sederhana, tapi implikasi dari budaya antre sangat berdampak pada kehidupan. Keteraturan, ketertiban, keselarasan bagian dari dampak budaya antre. Hal yang tidak kalah penting yakni “antre agar tak korupsi”. Antre menurut KBBI yaitu berdiri berderet-deret memanjang menunggu mendapat giliran. Kegiatan antre dapat kita temukan dimana saja, dan kapan saja. Antre dalam membeli karcis, antre dalam membayar rekening listrik, antre menunggu panggilan ke teller bank dan sebagainya. Di sekolahpun budaya antre sering kita temui. Namun bagaimana kaitan antre dengan korupsi?, mengambil hak orang lain merupakan bagian dari korupsi. Jika kita mendahului orang lain maka kita telah mengambil hak orang lain disana. Membudayakan antre merupakan pelajaran dasar bagi siswa untuk tidak melakukan korupsi.
Sikap dan perilaku siswa yang kurang tertib antre menjadi suatu tantangan yang perlu solusi untuk merubahnya. Pembelajaran antre dan membudayakannya di kelas VI merupakan bagian dari menanamkan nilai-nilai anti korupsi. Harus ada rencana maupun strategi untuk memudayakan antre di kelas VI. Sayapun memulainya melalui empat tahapan yakni 1) memberi pemahaman tentang budaya antre dan dampaknya bagi kehidupan, 2) membuat aturan tentang budaya antre, 3) membiasakan budaya antre masuk kelas, dikantin dan saat mengambil wudhu 4) melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan budaya antre.
Mulailah tahap awal, pagi hari ketika bel masuk berbunyi saya membuat tulisan di papan tulis yang cukup besar yakni tulisan “antre agar tak korupsi”. Sontak ketika masuk mereka kaget dan salah satu siswa mendekat ke meja saya, “ada apa Tiya, adakah yang Pak Guru bisa bantu” tanya saya. “Pak Guru, apa maksud dari antre agar tak korupsi”? tanya tiya dengan wajah yang tampak bingung. Kemudian saya mengapresiasi pertanyaan Tiya dengan memujinya sebagai murid yang pintar agar teman-temannya yang lain bisa termotivasi dalam bertanya, menalar dan mendiskusikan kalimat di papan tulis. Namun sebelum menjawab pertanyaan Tiya tadi mereka melakukan aktivitas rutin masuk kelas yakni menyiapkan kelas, berdoa dan agenda literasi membaca lima belas menit.
Pada saat kegiatan membaca, saya mengarahkan mereka pada teks bacaan terkait pemberitaan berbagai kasus korupsi yang berakhir dengan hukuman penjara. Setelah kegiatan membaca selesai masuklah pada pertanyaan Tiya. Kami mendiskusikan masalah antre, kejadian yang sering terlihat ketika masuk kelas, menyerobot masuk membeli makanan di kantin, perselisihan yang terjadi ketika mengambil wudhu yang faktor penyebabnya yakni “tidak mau antre”. Kemudian disela-sela diskusi Albert bertanya dengan rasa penasaran “Pak Guru, berarti orang yang tidak antri dia melakukan korupsi?”. Saya menjawabnya dengan tegas “Ya, salah satu ciri-ciri orang korupsi adalah mengambil hak orang lain, dan pada saat antri jika Albert menyerobot ditengah-tengah antrean berarti telah mengambil hak orang lain karena mendahuluinya”. Kelas terlihat hening mereka semua terdiam.
Di tengah keheningan itu saya memulainya dengan menanamkan pemahaman tentang budaya antre dan dampaknya bagi kehidupan. Penjelasan dan diskusi kelas mengakhiri tahap pertama dimana memberi pemahaman sehingga mereka mengerti dan memahami akan pentingnya antre agar tak korupsi. Selanjutnya masuk pada tahap kedua yakni membuat kesepakatan melalui aturan-aturan terkait aktivitas antre. Aturan yang dibuat berdasarkan saran dan ide dari siswa, guru hanya memfasilitasi dan mengarahkan kesepakatan-kesepakatan tersebut. Aturan yang disepakati yakni terkait dengan aktivitas antre saat masuk ke kelas, antre berbelanja di kantin sekolah, antre dalam mengambil wudhu ketika hendak sholat. Dari kesepakatan tersebut disiapkan buku calang (catatan pelanggaran) yang memuat catatan-catatan pelanggaran yang dilakukan pada saat tidak tertib dan melanggar antrean.
Setelah kesepakatan itu dibuat maka pada tahap tiga dilaksanakan pembiasaan, tahap ini merupakan tahap yang sangat penting bagi siswa dimana mereka harus melakukan aktivitas antre berdasarkan kesepakatan yang telah mereka sepakati bersama. Pada tahap pembiasaan mereka melakukan aktivitas antre di sekolah, pada saat masuk kelas, di kantin sekolah, dan mengambil wudhu ketika hendak sholat. Seluruh siswa berperan aktif dalam melaporkan apabila terjadi pelanggaran dan kesalahan. Setiap pelanggaran yang terjadi akan dicatat pada buku calang.
Mulailah saya melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa. Ketika melihat mereka di kantin sekolah, saya sangat bangga mereka mulai tertib. Catatan kecil yang saya dapatkan dari aktivitas antre di kantin yakni mereka saling mengingatkan utuk tetap bersikap tertib. Di siang hari ketika hendak mengambil wudhu, tak teredengar lagi sahutan atau teriakan mereka yang selalu berselisih akibat tak tertib antre. Keesokan hari pada saat selesai apel pagi merekapun masuk dengan tertib berjabatan tangan dengan saya, walaupun masih terdengar sahutan saling mengingatkan untuk antre. Tidak masalah buat saya, yang terpenting adalah ini bagian dari pembiasaan, jika pembiasaan ini berhasil maka akan membudaya pada keseharian mereka. Tahap pembiasaan dilaksanakan selama satu bulan setelahnya akan dilakukan evaluasi.
Setelah satu bulan berlangsung, maka pada tahap keempat dilaksanakan evaluasi. Tahap evaluasi dilaksanakan untuk melihat keberhasilan budaya antre. Salah satu acuan dasar dalam mengevaluasi budaya antre adalah dengan membuka buku catatan pelanggaran. Setiap pelanggaran dibahas dilakukan refleksi sebagai perbaikan untuk melaksanakan agenda selanjutnya. Pada tahap evaluasi saya memberikan reward terhadap siswa yang namanya tidak masuk pada buku calang, dan memilih tiga siswa terbaik dalam mengikuti budaya antre di kelas VI. Mereka sangat antusias, sangat senang ketika diberi reward dan terpilih sebagai siswa terbaik budaya antre.
Sayapun mewawancarai salah satu siswa terbaik budaya antre. “Tiya, gimana perasaannya terpilih sebagai siswa terbaik dalam kegiatan ini?”. Tiya menjawab sambil tersenyum, “saya sangat senang Pak Guru”. “Apa kendala dalam melaksanakan kegiatan seperti ini?, tanya saya. “kendalanya tidak ada pak, hanya saja saya selalu mengingatkan teman-teman untuk selalu bersikap tertib” jawabnya. Pertanyaan terakhir “adakah manfaat untuk membudayakan antre?”. Tiya menjawab dengan tegas “ya Pak Guru, tidak ada lagi yang rebutan masuk kelas, semuanya tertib tanpa mendahului orang lain”.
Empat tahapan telah dilaksanakan untuk menumbuhkan budaya antre di kelas. Setelah evaluasi dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan kegiatan budaya antre terlaksana dengan baik. karakter antre sangat sederhana namun terkadang sulit untuk dilaksanakan. Nilai dasar budaya antre akan memberi kontribusi terhadap pendidikan korupsi. Mendahului orang lain tanpa melalui proses antre, sama saja dengan kita mengambil hak orang lain. Inilah bagian dari proses pendidikan karakter yang harus selalu di ajarkan di sekolah.
Sampai saat ini budaya antre terus terbina di kelas VI. Hasil dari pembinaan ini berdampak pada kelas yang lain, dimana strategi menumbuhkan budaya antre agar tak korupsi dilakukan disetiap kelas dan menjadi kebijakan sekolah. Inilah upaya yang dilakukan sejak dini untuk mencegah praktek-praktek korupsi. Jika pendidikan dasar mulai menyentuh agenda-agenda pencegahan korupsi, maka negeri ini akan bebas dari kegiatan korupsi.
Budaya antre mungkin hanya satu dari sebagian upaya dalam memproteksi kegiatan korupsi. Namun, jika kita tidak memulai dari hal-hal yang kecil dan menjadi dasar seperti budaya antre maka sangat sulit untuk melakukan dan memberantas tidakan buruk tersebut. Harapan setiap guru dan orang tua ialah menginginkan siswa dan anaknya kelak menjadi orang yang berguna dan bermanfaat untuk negara serta bangsanya. Keberhasilan mereka tidak harus dicapai dengan hal-hal tak terpuji seperti korupsi, namun keberhasilan itu harusnya dengan sikap dan perilaku terpuji dibentuk sejak dini dan membudaya dalam kehidupan nyata.
            Sungguh hati saya menangis dan sedih membaca pemberitaan nasional.kompas.com tanggal 19 september 2017, berdasarkan data statistik komisi pemberantasan korupsi disebutkan sejak 2004 hingga juni 2017 ada 78 kepala daerah yang berurusan dengan KPK. Peristiwa yang terbaru lagi, September 2017 ada 5 kepala daerah yang terciduk operasi tangkap tangan KPK. Pertanyaannya, mengapa negeri yang kita cintai ini tidak pernah selesai dengan korupsi?. Pentingkah nilai-nilai dasar korupsi diajarkan di sekolah dasar?, serta apakah kita sudah mengambil peran dalam agenda pencegahan korupsi?.

            

Monday, July 6, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERPIKIR INDUKTIF DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK



PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN  BERPIKIR INDUKTIF DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK  
Oleh ; Zefrin, M.Pd
SD Negeri 89 Sipatana Kota Gorontalo



A.  Pendahuluan
Proses pembelajaran yang baik sering diartikan dengan melibatkan peserta didik secara aktif, dengan berbagai metode, strategi, pendekatan bahkan model yang dipilih oleh guru untuk bisa mengantarkan mereka pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Rencana pembelajaranpun disusun baik rapi sebelum guru memasuki ruang kelas bahkan rencana model pembelajaran seyogyanya sudah ditentukan oleh guru, sehingga didalam kelas guru telah mempunyai rencana yang jelas untuk menyampaikan materi dan tujuan pelajaran yang akan dicapainya.
Suatu kejadian nyata berdasarkan pengalaman saya dan mungkin dirasakan oleh sebagian teman-teman guru sekalian ketika mengajarkan materi pada siswa SD seringkali meraka cepat lupa dan sulit mengingat materi tersebut ketika diberikan evaluasi padahal pada saat proses pembelajaran mereka begitu aktif dan menerima baik konsep atau materi yang kita ajarkan. Analisis berdasarkan hasil refleksi pembelajaran yang saya temukan adalah memberikan pemahaman kepada siswa seringkali bersifat deduktif, siswa saya ajarkan dengan berbagai konsep dan fakta-fakta yang membuat mereka menarik dan aktif akan tetapi pada akhir pembelajaran mereka tidak mampu menyimpulkan konsep tersebut.
Sebagai contoh yang coba saya ilustrasikan melalui artikel ini, ketika pengalaman mengajar saya mengajarkan tentang konsep atau materi “gaya” pada mata pelajaran IPA untuk siswa kelas V, saya menyampaikan tujuan terlebih dahulu kepada mereka kemudian menyajikan peta konsep dan menyampaikan penjelasan materi bahwa ada 3 macam gaya yang kita akan pelajari pada hari ini yakni gaya magnet, gaya gravitasi, dan gaya gesek. Semua siswa tertarik untuk mempelajarinya, kemudian saya melanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang ketiga gaya tersebut dan melalui percobaan meraka harus membuktikannya. Semua siswa didalam kelas aktif melakukan percobaan berdasarkan LKS yang diberikan, semuanya aktif dan senang melakukan percobaan. Pada hasil akhir mereka mempresentasekan hasil diskusi masing-masing kelompok. Yang terjadi pada saat evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa mereka sangat sulit untuk memaknai konsep pembelajaran memberikan defenisi materi secara jelas.
Dari ilustrasi diatas maka model pembelajaran dapat dikatakan bersifat deduktif karena siswa diberikan pemahaman secara umum melalui konsep dan menuju pada hal-hal spesifik yang dibuktikan dengan percobaan. Alhasil pembelajaran hanya bersifat sementara tanpa menemukan dan mengkonstruksi konsep yang mereka pelajari sehingga hasil evaluasi pada siswapun tdk mendapatkan hasil yang maksimal maka diperlukan proses berfikir siswa secara induktif agar mereka mampu mengamati, menganalisa dan membuat hipotesis agar pembelajaran lebih bermakna.   
Dalam suatu penelitian tindakan kelas pada siswa kelas IV SDN Lidah Wetan II/462 Surabaya oleh Dyah Retna Sari tentang “Peningkatan Keterampilan Berpikir Induktif Melalui Penerapan Model Pembelajaran Berpikir Induktif Pada Mata Pelajaran Ipa SD”. Penelitian ini berawal dari rendahnya keterampilan berpikir induktif siswa yang peneliti temukan saat melakukan pengamatan. Pelaksanaan penelitian ini memiliki 5 tujuan diantaranya yaitu untuk mendeskripsikan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran, mendeskripsikan keterampilan berpikir induktif siswa, mendeskripsikan hasil belajar siswa dan mendeskripsikan respon siswa terhadap pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran berpikir induktif utamanya pada pelajaran IPA. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian sebanyak 2 siklus dengan tahapan tiap siklus yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, tes, dan angket. Data penelitian dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas guru pada Siklus I sebesar 64% meningkat menjadi 89% pada Siklus II, aktivitas siswa pada Siklus I sebesar 69% meningkat menjadi 84% pada Siklus II, keterampilan berpikir induktif siswa pada Siklus I sebesar 56% meningkat menjadi 77% pada Siklus II, hasil belajar siswa pada Siklus I sebesar 51,28 meningkat menjadi 76,92 pada Siklus II, dan peningkatan juga terjadi pada respon siswa yang pada Siklus I sebesar 69% meningkat menjadi 84% pada Siklus II.
Dari data hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model berpikir induktif siswa dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran, hasil belajar dan utamanya yaitu keterampilan berpikir induktif siswa. Sehingga guru dapat menerapkan model pembelajaran berpikir induktif ini untuk dapat meningkatkan keterampilan berpikir induktif siswa. Dengan demikian dapat tercipta pembelajaran yang bermakna bagi siswa.
Model pembelajaran induktif merupakan pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis. Pada model pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari siswa, selanjutnya guru membimbing siswa untuk menemukan pola-pola tertentu dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan tadi.
Model pembelajaran induktif dirancang berlandaskan teori konstruktivisme dalam belajar. Model ini membutuhkan guru yang terampil dalam bertanya (questioning) dalam penerapannya. Melalui pertanyaan-pertanyaan inilah guru akan membimbing siswa membangun pemahaman terhadap materi pelajaran dengan cara berpikir dan membangun ide. Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif ini, jadinya-sangat tergantung pada keterampilan guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru harus menjadi pembimbing yang akan untuk membuat siswaberpikir.
Model induktif dapat membantu siswa mengumpulkan informasi dan mengujinya dengan teliti, mengolah informasi ke dalam konsep-konsep, dan belajar memanipulasi konsep-konsep tersebut. Digunakan secara bertahap, strategi ini juga dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk membentuk konsep-konsep secara efisiensi dan meningkatkan jangkauan perspektif dari sisi mana mereka memandang suatu informasi. Dalam Kurikulum 2013 telah dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif, kreatif dan inovatif dan mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan mereka dengan pola pendekatan saintifik atau ilmiah.
Pendekatan saintifik akan membentuk nalar ilmiah siswa dengan mengedepankan fakta yang dikaji dan diujicobakan agar siswa memperoleh kebenaran ilmiah dan mampu menyimpulkan sendiri dari proses yang telah dilakukan. Dalam pendekatan ilmiah sangat perlu mengembangkan pola pembelajaran induktif dimana siswa melihat hal-hal secara spesifik dan mampu mengambil kesimpulan secara umum berdasarkan proses yang telah mereka ujicobakan.

PEMBAHASAN
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Pengertian Belaja
           Menurut Djamarah, Syaiful dan Zain (2006:11), “belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan.” Berdasarkan definisi diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang setelah berinteraksi dengan lingkungannya, dalam hal ini adalah lingkungan kelas pada saat proses pembelajaran, yang akan menambah pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.  
Telah disebutkan sebelumnya bahwa “belajar merupakan proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan” (Djamarah, Syaiful dan Zain, 2006:11). Artinya tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Seperti halnya yang dikatakan oleh Sardiman (2001:26-29) bahwa secara umum tujuan belajar dibedakan atas tiga jenis, yaitu:       
a. Untuk mendapatkan pengetahuan
Pengetahuan dan kemempuan berpikir merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir tanpa bahan pengetahuan. Jadi, dengan adanya bahan pengetahuan, maka seseorang dapat mempergunakan kemampuan berpikir di dalam proses belajar, sehingga pengetahuan yang didapat semakin bertambah.         
b. Pembentukan sikap           
Pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik tidak akan terlepas dari penanaman nilai-nilai. Oleh karena itu, guru tidak hanya sekedar mengajar, tetapi betul-betul sebagai pendidik yang akan memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya. Maka akan tumbuh kesadaran dan kemauannya untuk mempraktekkan segala sesuatu yang sudah dipelajarinya.          
c. Penanaman keterampilan   
Belajar memerlukan latihan-latihan yang akan menambah keterampilan dalam diri siswa, baik itu keterampilan jasmani maupun keterampilan rohani.


Pengertian Pembelajaran    
Pembelajaran adalah upaya secara sistematis untuk mewujudkan proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien (Zainal :66). Menurut Hamalik (2007:77) pembelajaran adalah suatu system artinya suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponenyang berinteraksi antara satu dengan lainnya dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun komponen-komponen tersebut meliputi tujuan pendidikan dan pengajaran, peserta didik dan siswa, tenaga kependidikan khususnya guru, perencanaan pengajaran, strategi pengajaran, media pengajaran, dan evaluasi pengajaran.
Dari teori-teori tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru yang telah diprogram dalam rangka membelajarkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sesuai dengan petunjuk kurikulum yang berlaku.
Dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif agar siswa dapat belajar secara aktif. Menurut Djamarah, Syaiful dan Zain (2006:41), dalam kegiatan pembelajaran terdapat beberapa komponen pembelajaran yang meliputi:     
a. Tujuan       
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan memiliki jenjang dari yang luas dan umum sampai kepada yang sempit/khusus. Adanya tujuan yang tepat mempermudah pemilihan materi pelajaran dan pembuatan alat evaluasi. Adanya tujuan yang tepat dan yang diketahui siswa, memberi arah yang jelas dalam belajarnya.
b. Bahan Pelajaran     
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Bahan pelajaran menurut Arikunto (dalam Djamarah, Syaiful dan Zain, 2006:43) merupakan unsur inti yang ada didalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik. Bahan yang disebut sebagai sumber belajar (pengajaran) ini adalah sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan pengajaran. Tanpa bahan pelajaran proses pembelajaran tidak akan berjalan.  
c. Kegiatan Pembelajaran      
Kegiatan pembelajaran adalah bentuk atau pola umum kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Kegiatan pembelajaran akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai medianya. Dalam interaksi tersebut siswa lebih aktif bukan guru, guru hanya sebagai motivator dan fasilitator.    
d. Metode      
Metode merupakan komponen pembelajaran yang banyak menentukan keberhasilan pengajaran. Guru harus dapat memilih, mengkombinasikan serta mempraktekkan berbagai cara penyampaian bahan yang disesuaikan dengan situasi.
e. Alat           
Alat adalah sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Alat mempunyai fungsi yaitu sebagai perlengkapan, sebagai pembantu mempermudah usaha pencapaian tujuan, dan alat sebagai tujuan.      
f. Sumber Pelajaran   
Sumber pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana pengajaran terdapat atau sumber belajar seseorang. Sedangkan sumber belajar  adalah segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan belajar, sehingga diperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperlukan.
g. Evaluasi     
Evaluasi merupakan proses sederhana dalam memberikan/menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek, dan masih banyak yang lain. Hasil dari evaluasi dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam meningkatkan kualitas mengajar maupun kuantitas belajar siswa.





MODEL BERFIKIR INDUKTIF
Pembelajaran induktif
Menurut Huda (2013:78) model berfikir induktif didasarkan pada asumsi awal bahwa setiap manusia termasuk siswa merupakan konseptor alamiah selalu melakukan konseptualisasi setiap saat. Model pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis. Pada model pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari siswa, selanjutnya guru membimbing siswa untuk menemukan pola-pola tertentu dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan tadi.
Struktur sosial dalam pembelajaran menjadi ciri lingkungan kelas yang sangat dibutuhkan untuk belajar melalui model pembelajaran induktif. Model pembelajaran induktif mensyaratkan sebuah lingkungan belajar yang mana di dalamnya siswa merasa bebas dan terlepas dari resiko takut dan malu saat memberikan pendapat, bertanya, membuat konklusi dan jawaban. Mereka harus bebas dari kritik tajam yang dapat menjatuhkan semangat belajar. Model ini dikembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir dapatdiajarkan.
2.  Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data.Artinya, dalam     seting kelas, bahan-bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu. Dalam seting tersebut, mana siswa belajar mengorganisasikan fakta ke dalam suatu sistem konsep,yaitu:
a.  Saling menghubung-hubungkan data yang diperoleh satu sama lain serta membuat   kesimpulan berdasarkan hubungan-hubungan tersebut.
b.  Menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang telah diketahuinya dalam rangka membangun hipotesis,dan
c. Memprediksi dan menjelaskan suatu fenomena tertentu. Guru, dalam hal ini, dapat membantu proses internalisasi dan konseptualisasi berdasarkan informasi tersebut
3. Proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan. Artinya, agar dapat menguasai keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus dikuasai terlebih dahulu, dan urutan tahapan ini tidak bisa dibalik. Oleh karenanya, konsep tahapan beraturan ini memerlukan strategi mengajar tertentu agar dapat mengendalikan tahapan-tahapan tersebut.
1. Prosedur (sintax) Pembelajaran
Postulat yang diajukan Taba di atas menyatakan bahwa keterampilan berpikir harus diajarkan dengan menggunakan strategi khusus. Menurutnya, berpikir induktif melibatkan tiga tahapan dan karenanya ia mengembangkan tiga strategi cara mengajarkannya.   
Taba mengidentifikasi tiga keterampilan berpikir induktif :    
a. Konsep pembentukan (belajar konsep)
Tahap ini mencakup tiga langkah utama: item daftar (lembar, konsep), kelompok barang yang sama secara bersama-sama, beserta label tersebut (dengan nama konsep).Langkah-langka :
1. Membuat daftar konsep  
2.  Pengelompokkan konsep berdasarkan karakteristik yang sama.
3. Pemberian label ataukategorisasi
b. Interpretasi data
Strategi kedua ini merupakan cara mengajarkan bagaimana menginterpretasi dan menyimpulkan data. Sama halnya dengan strategi pertama (pembentukan konsep), cara ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu.      
Langkah-langkah:
1.    mengidentifikasi dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya.
2.    mejelaskan dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya.
3.    Membuat kesimpulan      
c. Penerapan prinsip-prinsip     
Strategi ini merupakan kelanjutan dari strategi pertama dan kedua. Setelah siswa dapat merumuskan suatu konsep, menginterpretasikan dan menyimpulkan data, selanjutnya mereka diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip tertentu ke dalam suatu situasi permasalahan yang berbeda.. Atau siswa diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip untuk menjelaskan suatu fenomenabaru
Langkah-Langkah:
1.    Membuat hipotesis, memprediksikonsekuensi
2.    Menjelaskan teori yang mendukung hipotesis atauprediksi.       
3.    Mengujihipotesis/prediksi

Peran Guru Dalam Model Pembelajaran Induktif
Saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran induktif, guru telah menyiapkan perangkat-perangkat yang akan membuat siswa beraktivitas dan mengobarkan semangat siswa untuk melakukan observasi terhadap ilustrasi-ilustrasi yang diberikan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Sekali lagi, diingatkan, bahwa model pembelajaran induktif memerlukan keterampilan bertanya yang bagus dari guru. Selain itu guru juga harusmenjaga siswa agar perhatian mereka tetap pada tugas belajar yang diberikan, dan selalu menunjukkan ekspektasi positif terhadap pencapaian hasil belajar siswa-siswanya. 
Kesuksesan proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran induktif juga bergantung pada contoh-contoh /ilustrasi yang digunakan oleh guru serta kemampuan guru membimbing siswa untuk melakukan analisis terhadap contoh/ilustrasi yang diberikan.

Kelebihan Model Pembelajaran Induktif
1.  Pada model pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari siswa, sehingga siswa mempunyai parameter dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
2.  Ketika siswa telah mempunyai gambaran umum tentang materi pembelajaran, guru membimbing siswa untuk menemukan pola-pola tertentu dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan tersebut sehingga pemerataan pemahaman siswa lebih luas dengan adanya pertanyaan-pertanyaan antara siswa denganguru
3.  Model pembelajaran induktif menjadi sangat efektif untuk memicu keterlibatan yang lebih mendalam dalam hal proses belajar karena proses Tanya jawab tersebut.

Kelemahan Model Pembelajaran Induktif
1.  Model ini membutuhkan guru yang terampil dalam bertanya (questioning) sehingga kesuksesan pembelajaran hamper sepenuhnya ditentukan kemampuan guru dalam memberikanilustrasi-ilustrasi.
2.  Tingkat keefektifan model pembelajaran induktif ini, jadinya-sangat tergantung pada keterampilan guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru harus menjadi pembimbing yang akan untuk membuat siswaberpikir
3.  Model pembelajaran ini sangat tergantung pada lingkungan eksternal, guru harus bisa menciptakan kondisi dan situasi belajar yang kondusif agar siswa merasa aman dan tak malu/takut mengeluarkan pendapatnya. Jika syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secarasempurna
4. Saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran induktif, guru harus telah menyiapkan perangkat-perangkat yang akan membuat siswa beraktivitas dan mengobarkan semangat siswa untuk melakukan observasi terhadap ilustrasi-ilustrasi yang diberikan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Dengan metode ini maka kemandirian siswa tidak dapat berkembangoptimal.
5. Guru harus menjaga siswa agar perhatian mereka tetap pada tugas belajar yang diberikan, sehingga peran guru sangat vital dalam mengontrol proses belajar siswa.
6. Kesuksesan proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran induktif bergantung pada contoh-contoh atau ilustrasi yang digunakan oleh guru.
7. Pembelajaran tidak dapat berjalan bila guru dan muridnya tidak suka membaca, sehingga tidak mempunyai pilihan dalam proses induktif        

Tips-Tips Mengajar Secara Induktif
Tips mengajar induktif menurut Bruce Joyce :
1.        Praktik, praktik dan praktik : membangun komunikasi melalui pembelajaran.
2.        Amati dan kaji begaimana siswa berpikir.
3.        Cobalah untuk terus membantu siswa belajar bagaimana cara belajar.
4.        Proses induktif membawa anak-anak untuk mengeksplorasi suatu bidang materi sebagai suatu komunitas pembelajaran yang berlatih untuk menguasai bidang tersebut.
5.        Kecuali berkonsentrasi pada elemen-elemen fonetik dan kosa kata yang baru dipelajari, kata-kata seharusnya diajikan dalam kalimat-kalimat yang menyediakan isyarat konteks dan jenis aktivitas dekat yang dibawa untuk meyakinkan bahwa ada makna / arti yang dibangun.
6.        Gunakan model ini dalam bidang-bidang kurikulum
7.        Pastikan seperangkat data memiliki sajian ciri atau sifat, baik untuk pembentukan konsep maupun pencapaian konsep.
8.        Berhati hatilah saat mengajarkan kalimat “lengkap” dan “tak lengkap”
9.        Membedakan antara fakta dan pendapat mungkin tidak cocok untuk eksplorasi singkat
10.    Dalam ilmu sains, cobalah fokus pada benda-benda di mana siswa dapat mengumpulkan data mentah.
11.    Siswa dapat membuat atau mendapat katagori-katagori yang berciri ganda
12.    Dalam mengajarkan konsep-konsep seperti adverb, harus ingat ahwa di setiap konsep itu terdapat banyak subkatagori.
13.    Berilah penekanan ulasan untuk serangkaian data yang tergolong rumit, seperti puisi.
14.    Mempelajari ciri-ciri sesuatu, seperti karakter dalam cerita, dapat menjadi inisiatif masalah yang menarik.
15.    Pertimbangkanlah jika ingin menyajikan objek dengan tatanan yang cukup rumit pada awal mula pengajaran.



Pembelajaran Pendekatan Saintifik
Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 dilaksanakan menggunakan pendekatan saintifik. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pendekatan saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah.
Kegiatan pembelajaran saintifik dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Lima pengalaman belajar ini diimplementasikan ke dalam model atau strategi pembelajaran, metode, teknik, maupun taktik yang digunakan. Berikut akan dijabarkan masing-masing pengalaman belajar.

·         Mengamati. Kegiatan mengamati bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks situasi nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta atau fenomena mencakup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.
     Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan bagi peserta didik untuk secara luas dan bervariasi  melakukan pengamatan melalui kegiatan melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek. Selanjutnya guru membuka kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dan dibaca.
·         MenanyaKegiatan menanya dilakukan sebagai salah satu proses membangun pengetahuan siswa dalam bentuk fakta, konsep, prinsip, prosedur, hukum dan terori.Tujuannnya agar siswa memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi secara kritis, logis, dan sistematis (critical thinking skills). Proses menanya bisa dilakukan melalui kegiatan diskusi dan kerja kelompok serta diskusi kelas. Praktik diskusi kelompok memberi ruang pada peserta didik untuk mengemukakan ide/gagasan dengan bahasa sendiri.
     Guru membimbing peserta didik agar mampu mengajukan pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang disusun dapat  bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. Guru melatih peserta didik menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang dibuat dan memberikan bantuan untuk belajar mengajukan pertanyaan sehingga peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri.
     Melalui kegiatan bertanya rasa ingin tahu peserta didik dikembangkan. Semakin terlatih dalam bertanya, rasa ingin tahu semakin berkembang.
     Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi dasar untuk mencari informasi lebih lanjut dan beragam melalui sumber yang ditentukan guru sampai yang dipilih peserta didik sendiri. Dimulai dari sumber kajian yang tunggal sampai yang beragam.
·         Mengumpulkan Data/eksperimen/eksplorasi. Kegiatan eksperimen bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan siswa dalam memperkuat pemahaman fakta, konsep, prinsip, ataupunprosedur dengan cara mengumpulkan data, mengembangkan kreativitas, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan ini mencakup merencanakan, merancang, dan melaksanakan eksperimen, menyajikan data,  mengolah data, dan menyusun kesimpulan. Pemanfaatan sumber belajar termasuk pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sangat disarankan.
            Tindak lanjut kegiatan bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Agar terkumpul sejumlah informasi, peserta didik dapat lebih banyak membaca buku, memperhatikan fenomena, atau objek dengan lebih teliti, bahkan melakukan eksperimen.
·         MengasosiasiKegiatan mengasosiasi bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap ilmiah. Informasi (data) hasil kegiatan mencoba menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu memproses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan. Data yang diperoleh diklasifikasi, diolah, dan ditemukan hubungan-hubungan yang
     Spesifik.Kegiatan dapat dirancang oleh guru melalui situasi yang direkayasa dalam kegiatan tertentu sehingga siswa melakukan aktivitas antara lain menganalisis data, mengelompokkan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan lembar kerja diskusi atau praktik. Hasil kegiatan mencoba dan mengasosiasi memungkinkan siswa berpikir kritis tingkat tinggi (higher order thinking skills) hingga berpikir metakognitif.
·      Mengomunikasikan.Kegiatan berikutnya adalah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampaikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut. Kegiatan mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik. Kegiatan ini dilakukan agar siswa mampu mengomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta kreasi siswa melalui presentasi,  membuat laporan, dan/atau unjuk karya.


SIMPULAN
       Model pembelajaran  induktif merupakan Model pembelajaran yang digunakan untuk sampai pada pernyataan yang universal dari hal-hal yang bersifat khusus. Tidak seperti penalaran deduktif, dalam penalaran induktif, kerja akal atau fikiran beranjak dari pengetahuan sebelumnya mengenai sejumlah kasus sejenis yang bersifat spesifik, khusus, individual, dan nyata yang ditemukan oleh pengalaman inderawi kita.Pada induktif ditunjukkan untuk membangun mental kognitif karenanya sangat sesuai untuk mengembangkan kemampuan berfikir,dan juga strategi ini sangat membutuhkan banyak informasi yang harus digali  oleh siswa.kelebihan dari pembelajaran induktif walaupun sangat sesuai untuk “social study” tetapi juga dapat digunakan untuk semua mata pelajaran  seperti sains,bahasa dan lain – lain. Pendekatan saintifik pada proses pembelajaran sangat baik untuk diterapkan model berfikir induktif karena Pendekatan saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Kegiatan pembelajaran saintifik dilakukan melalui proses mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.


Daftar Rujukan

Aqib,Zainal.2013. Model, Media Dan Strategi Pembelajaran. Bandung : Yrama Widya
Djamarah Syaiful & Zain 2010. Strategi belajar mengajar. Jakarta : Rineka Cipta
Retna Sari, Dyah. 2013. Peningkatan Keterampilan Berpikir Induktif Melalui Penerapan Model Pembelajaran Berpikir Induktif Pada Mata Pelajaran IPA SD. Surabaya: skripsi
Huda, Miftahul. Model-model Pengajaran Dan Pembelajaran.Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hamalik. 2007. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Joyce,B &Weil, M. 2000. Models Of Teaching. Ed. Boston: allen and Bacon
Sardiman,A.M. 2001. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada







Wednesday, July 1, 2015

Wed, 07/01/2015 - 09:26
Jakarta, Kemendikbud ---  Kesadaran bangsa Indonesia sebagai bagian dari dunia harus dimunculkan. Karena mau tidak mau, fakta tersebut tidak dapat dihindari. Di kawasan ASEAN saja misalnya, dari 600 juta penduduk ASEAN 230 juta di antaranya adalah penduduk Indonesia.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, dengan kesadaran sebagai warga dunia ini, maka masyarakat Indonesia harus memiliki kompetensi yang dapat mewarnai percaturan dunia. “Misalnya kita adalah warga Jakarta, maka kita harus sadar bahwa kita adalah warga Indonesia, sekaligus warga dunia,” katanya saat menyampaikan rekaman sambutan untuk pertemuan ASEANconnect, Jumat (26/06/2015) lalu, di Kantor Kemendikbud Jakarta.
 
Mendikbud mengatakan, meskipun kesadaran semacam itu dimunculkan, tapi bangsa Indonesia harus tetap mempertahankan karakter keIndonesiaannya. Setiap pribadi, kata dia, harus mempersiapkan diri untuk masuk ke ajang internasional. Apalagi komunitas ASEAN sudah di depan mata, akhir 2015 ini.
 
Mendikbud mengingatkan agar anak-anak Indonesia ketika masuk ke komunitas ASEAN harus betul-betul menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari ASEAN. Karena kalau tidak, maka anak-anak Indonesia akan tertinggal dari bangsa lain. Ia mencontohkan, ketika Indonesia merdeka, hanya orang-orang yang menyadari bagian dari republik yang terlibat. “Yang tidak menyadari akan tertinggal,” katanya.
 
Salah satu kompetensi yang harus disiapkan, kata Menteri Anies, adalah kemampuan berbahasa dan berkomunikasi secara internasional. “Minimal ada tiga Bahasa yang harus dipahami, Bahasa daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa internasional,” tuturnya.(Aline Rogeleonick)